Potret Kampus di atas Awan

28 02 2010

Negri diatas awan, adalah sebuah istilah untuk menggambarkan sebuah khayalan, yang tentunya jauh dari ketidak sempurnaan.  Artikel “Potret Kampus diatas awan” yang disertakan dalam Lomba Blog UII yang diadakan oleh Universitas Islam Indonesia ini bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa perguruan tinggi idaman adalah sebuah khayalan belaka dan tidak mungkin tercapai, namun bertujuan untuk memotivasi dan menjadi impian yang semoga bisa menginspirasi berbagai pihak untuk mewujudkan perguruan tinggi idaman.

Universitas atau kampus adalah sebuah asset bagi sebuah negara yang tidak ternilai harganya, bahkan lebih berharga dari kekayaan alam jenis apapun. Mengapa demikian? Dikarenakan kampus adalah pusat atau wadah yang memproduksi sumber daya terbarukan berupa manusia yang berkualitas secara intelektual dan moral. Manusia yang berkualitas inilah yang mampu mengelola sumber daya yang dimiliki.  Tanpanya, sumber daya yang dimiliki oleh sebuah Negara hanya akan menjadi hal yang tersia-sia atau bahkan justru menjadi musibah, dikarenakan masyarakatnya tidak memahami bagaimana memanfaatkan dan megelola sumber daya yang dimiliki.

Untuk mewujudkan universitas ideal, penulis merumuskan lima syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah universitas, yaitu :

1. Bervisi untuk menggerakkan kemajuan bangsa

Dewasa ini, muncul sebuah istilah World Class University atau Universitas berkelas dunia yang tentunya juga mendapat predikat perguruan tinggi terbaik.  Sungguh luar biasa tentunya, namun yang harus diingat adalah universitas tersebut juga harus mampu berdaya guna bagi masyarakat dan bersumbangsih pada kemajuan bangsa. Akan menjadi  percuma saja jika universitas tersebut meraih penghargaan dunia internasional akan prestasi – prestasinya dan mendapat predikat perguruan tinggi favorit indonesia, namun tidak mampu memberikan nilai tambah pada masyarakat dan negrinya. Karena pada hakikatnya, ilmu pengetahuan yang diajarkan adalah untuk kesejahteraan manusia.

Oleh karena itu, universitas juga perlu memperhatikan kondisi masayarakat dan bangsa, serta bersumbangsih dalam memberikan manfaat dan melakukan pemberdayaan. Namun yang dimaksudkan disini bukan hanya sumbangsih jangka pendek, berupa bakti sosial atau semacamnya, tetapi juga sumbangsih jangka panjang, yaitu dengan melakukan proses pendidikan dan penanaman pemahaman serta kepedulian para mahasiswanya untuk bersumbangsih kepada msyarakat dan bangsanya.

Justru inilah yang lebih dibutuhkan masyarakat. Karena mahasiswa adalah iron stock yang nantinya terjun ke masyarakat setelah masa studinya dikampus selesai. Lulusan universitas akan menempati berbagai posisi profesi, disitulah titik sumbangsih sebenarnya didedikasikan. Sebuah sumbangsih jangka panjang. Bukan sumbangsih jangka pendek, selama mahasiswa duduk di bangku perkuliahan saja yang tentunya dalam waktu yang sangat terbatas.

2. Membuka kesempatan pendidikan tinggi seluas – luasnya bagi seluruh lapisan masyarakat

Tidak dipungkiri, bahwa tingkat masyarakat di Indonesia yang berpendidikan tinggi masih rendah.  Pada tahun 2004, angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia mencapai 14,62%, masih jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangga. Misalnya Thailand yang telah mencapai APK pendidikan tinggi hingga 42,7%, Malaysia (32,5%) dan Filipina (28,1%). (Majalah KAMPUS, April 2009).

Disinilah akan timbul kesenjangan tingkat pendidikan antar lapisan masyarakat. Oleh karena itu, universitas sebagai lembaga pendidikan harus berpatisipasi untuk mengatasi kesenjangan tersebut, yaitu membuka kesempatan pendidikan seluas – luasnya bagi seluruh lapisan masyarakat. Langkah ini dapat ditempuh dengan berbagai strategi, misalnya pemberian beasiswa, penerimaan dengan bakat khusus, ataupun menjalin kerjasama ikatan kerja dengan pihak industri. Namun strategi yang akan diambil haruslah tepat sesuai dengan kondisi universitas tersebut.

3. Kurrikulum yang sejalan dengan perkembangan zaman

Perkembangan ilmu pengetahuan adalah sebuah hal yang tidak mungkin dihentikan. Perkembangan tersebut juga berpengaruh pada tingkat persaingan di dunia global. Untuk meningkatkan daya saing baik universitas itu sendiri maupun lulusan dari universitas tersebut, maka haruslah disusun sebuah kurikulum yang up to date seiring dengan perkembangan zaman. Karena  jika tidak, maka universitas dan lulusannya akan mengalami ketertinggalan dan memiliki daya saing  yang rendah.

4. Berkonsentrasi pada peningkatan mutu lulusan baik dalam hal keilmuan maupun interpersonal.

Untuk memasuki lapangan kerja yang semakin kompetitif, lulusan perguruan tinggi tidak lagi cukup berbekal pengetahuan (knowledge, hard skills) tetapi juga kepribadian dan kepemimpinan (soft skills, leadership). (Majalah KAMPUS, April 2009).

Kondisi persaingan global yang semakin kompetitif baik dalam skala nasional maupun internasional menuntut seorang lulusan universitas memliki daya saing yang tinggi, bukan hanya dalam hal ilmu pengetahuan tetapi juga dalam hal interpersonal seperti kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerja dalam tim dan sebagainya.

Sehingga lulusan universitas tidak menjadi pengangguran intelektual yang tidak produktif dan bergantung pada lapangan kerja yang sudah ada saja. Namun menjadi lulusan yang berdaya saing tinggi dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Dalam hal peningkatan kualitas interpersonal, pihak kampus dapat bekerjasama dengan lembaga kemahasiswaan yang ada, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Senat Mahasiswa ataupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lainnya. Karena disanalah, wadah yang tepat bagi pengembangan kemapuan interpersonal mahasiswa.

5. Membangun sistem pembelajaran yang professional dan produktif

Sistem pembelajaran adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kegiatan sebuah universitas. Sehingga dibutuhkan sebuah sistem pembelajaran yang professional dan produktif.

Salah satu bagian dari sistem tersebut adalah dosen. Untuk membangun universitas ideal, yang diperlukan bukan hanya dosen yang berkapasitas secara keilmuan, namun juga berkapasitas secara professional dalam kemampuan mengajar dan mendidik, misalnya dalam kemampuan mengkomunikasikan pengetahuan yang hendak diajarkan. Dalam artikel ini, penulis tidak membahas satu persatu bagian dari system pembelajaran ini, dikarenakan keterbatasan tempat dan pengetahuan yang penulis miliki.

Ilmu pengetahuan yang diajarkan  dan berbagai penelitian yang dilakukan didalam sebuah universitas, seharusnya tidak hanya menjadi catatan saja atau bahkan menjadi laporan berdebu yang menumpuk diperpustakaan, namun juga harus menghasilkan sebuah produk yang berdaya guna. Disinilah system pembelajaran yang produktif sangat diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Pada dasarnya, kampus yang ideal bukanlah suatu hal yang mustahil. Namun memerlukan kerja keras dan kerjasama berbagai pihak, baik pihak universitas, mahasiswa, maupun pemerintah. Dan yang terpenting adalah bagaimana keberadaan universitas menjadi sumbangsih besar bagi masayarakat dan bangsa.

Tulisan ini disertakan dalam Lomba Blog UII



Actions

Information

15 responses

28 02 2010
ELFARIDI

we’e’e’e’e…🙂 mahasiswa tulen nih… sla kenal sob,, mari kunjung ke blog saya🙂

1 03 2010
- H -

Nice post🙂

+1

2 03 2010
mycorner

Kampus di atas awan adalah kampus ideal yang rasanya mampu direalisasikan dengan semangat kebaikan.. semoga

2 03 2010
iwan

mantap artikelnya gan..
salam kenal😀

8 03 2010
grandchief

mantep dech

12 03 2010
M Mursyid PW

Di negara kita ini orang2 berduit tebal masih sangat belum peduli dg pendidikan. Kalau saja para konglomerat mau sedikit lebih banyak menyumbangkan kekayaannya untuk misalnya mendanai penelitian yang dilakukan para dosen dan peneliti lain di PT tentu akan besar pengaruhnya terhadap kemajuan pendidikan.

13 03 2010
hanif IM

wah, ulasannya lengkap. relevansi antara dunia kerja dan perkuliahan mungkin juga perlu ya. adanya jaringan yang baik antara penyedia lapangan kerja dengan yang menghasilkan para pekerja.

15 03 2010
indonesiatekno

Betul Mas… Biar para sarjana juga bisa bermanfaat. Bukan hanya sekedar gelar. Namun lebih bagus lagi kalau sarjana2 itu bisa menciptakan lapangan pekerjaan, bukan berebut lapangan pekerjaan.

15 03 2010
kinta mahadji

Artikelnya bagus-bagus, semoga menang ya🙂

15 03 2010
indonesiatekno

Amin…Terimakasih Mas Kinta

19 03 2010
darahbiroe

kampus idaman dan sungguh yang bisa menciptakan manusia yang berkwalitas sanagt dibutuhkan di indoneia ini

blogwalking berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
salam blogger
maksih😀

7 04 2010
aveliansyah

semoga menang za!🙂

29 04 2010
Team Ronggolawe

Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^ Salam dari teamronggolawe.com

29 04 2010
Ismail Agung

like this hehehehe!!!

5 06 2010
Carilagump3

Tulisan yang bagus, semoga bermanfaat.. Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: