Keikhlasan bocah pendorong sepeda

28 12 2009

Pagi itu, tidak seperti pagi biasa. Setelah semalaman menginap dikampus untuk membuat website, sekitar jam 06.00, kaki ini melangkah, melewati jalur yang biasa kulewati, lorong gedung Teknik Perkapalan, lalu berjalan di tanjakkan depan kantor Dekanat Fakultas Teknik. Setelah itu, menyusuri jalan raya di depan gedung Prof. Soedarto. Sengaja saya tak brjalan diatas trotoar, karena memang suasana saat itu masih sangat lengang, hanya ada seorang bapak yang sedang lari pagi. Tak lama kemudian, kaki ini mengayun meluncur di atas turunan peternakan.

Disitulah pernah terjadi tragedi meninggalnya seorang mahasiswa, karena ditabrak mobil seorang dosen yang hendak menyebrang. Sang mahasiswa mengendarai motor meluncur kencang menurun saat mobil tersebut hendak menyebrang. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Jiwa sang mahasiswa tersebut berpulang kehadirat-Nya.

Saat ku menapaki turunan peternakan itu, dari arah berlawanan, ada sebuah pemandangan menarik yang mengusik hati. Ku lihat ada seorang anak kecil, mungkin ia baru kelas 3 atau 4 SD, rambutnya botak 1 cm, memakai kaos dan celana pendek, tak lupa ditemani sepasang sandal jepit. Ia mendorong sebuah sepeda roda tiga. Ada seorang anak kecil perempuan diatas jok sepeda itu. Umurnya kira – kira 4 atau 5 tahun, pakaiannya warna pink, tak tampak di wajahnya suatu kesedihan, justru senyum bahagia khas balita menghiasi imut wajahnya.

“Ah, sabar benar anak itu, ia mau mendorong sepeda adiknya, walau harus melewati jalan yang begitu terjal. Yang diriku saja,malas melewati jalur ini, karena butuh banyak tenaga untuk melewatinya”. Namun, sejenak kuperhatikan, tak tampak rasa capek atau keluh kesah di wajah si bocah botak itu. Ia sangat sabar dan ikhlas mendorong sepeda adikknya walau harus mengeluarkan banyak tenaga, apalagi untuk ukuran anak sekecil itu. Sesekali ia merapatkan sepedanya ke pepohonan di pinggir jalan, agar tangan kecil adikknya mampu meraih hijaunya dedaunan.

***

Maafkanlah hamba Ya Allah…Sungguh Engkau mengingatkan hamba tentang apa arti keikhlasan, pengorbanan, kerelaan untuk memberi, walau harus berpeluh keringat, walau letih mendera. Lewat bocah botak itu, diri ini kembali sadar. Bocah itu rela bertarung dengan rasa letih, hanya untuk melihat sang adik tersenyum bahagia, walaupun sang adik tak memberi imbalan apa – apa atas pengorbanan yang ia lakukan.

Terkadang kita menjadi lupa akan hakikat manusia. Sudah terlalu lama kita tenggelam dalam kubangan egoistis yang tak mau lepas dari perkataan,”Apa untungnya bagiku?”. Kita telah terlupa akan hakikat kesucian hati seperti yang telah ditunjukkan oleh bocah tadi. Kesucian hati yang bertahtakan keikhlasan dan pengorbanan.

Ya Allah, ampunilah kami, atas segala dosa yang kami perbuat sehingga mengotori hati kami. Kami mohon agar Engkau mengaruniakan kesucian dan kebersihan hati, yang bertahtakan keikhlasan dan berselimutkan kerelaan untuk berkorban.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: